Showing posts with label One Shots. Show all posts
Showing posts with label One Shots. Show all posts

Friday, February 22, 2013

Sebuah Cerita tentang Pesan Singkat

Selamat siang, India.

Indy berulang kali membaca sebaris kalimat yang tertera di layar ponselnya itu, namun tidak membalasnya. Ia hanya menghela napas, lalu kembali memasukkan ponsel ke dalam saku jaketnya.
Sudah 20 menit berlalu sejak ia menerima pesan singkat tersebut. Pesan itu bukan SMS nyasar. Pulsanya juga tidak habis. Malah, Indy merasa amat senang ketika menerimanya.
Ia bukannya tidak mau membalas. Ia hanya ragu untuk membalasnya.

Pengirimnya bernama Alan. Mereka bertemu tiga bulan yang lalu di pesta ulang tahun teman SMA Indy. Kedengarannya memang klise, namun begitulah yang terjadi. Singkat cerita, mereka saling bertukar nomor telepon dan komunikasi pun kembali berlanjut.
Akan tetapi, tiba-tiba saja komunikasi mereka terputus begitu saja selama satu bulan. Tiba-tiba Alan menghilang.
Sampai pesan singkat itu tiba.

Selamat siang, India.

Kalimat sapaan sejenis itu memiliki makna ganda. "Selamat siang" dapat diartikan sebagai bentuk basa-basi standar ketika seseorang memulai pendekatan. "Selamat siang" juga dapat diartikan sebagai penyambung komunikasi yang dilakukan oleh seorang teman.

Teman!

Indy tidak membenci kata itu. Indy senang berteman dengan Alan, dan ia yakin Alan pun begitu. namun, lama-lama wanita itu merasakan ada sesuatu yang lain... ia menginginkan lebih dari sekedar hubungan pertemanan.
Indy menyukai Alan. Ia menyukai kacamatanya, rambutnya yang ikal halus, suara baritonnya, senyumannya, dan matanya yang berbinar saat membicarakan Wes Anderson, sutradara favoritnya sepanjang masa.
Ia paling suka saat Alan memanggil nama depannya dengan lengkap—India—alih-alih Indy, seperti yang dilakukan orang-orang pada umumnya. Alan merasa India adalah nama yang unik, dan memutuskan untuk memanggilnya begitu sampai seterusnya.
Ia paling suka ketika tanpa sengaja ujung-ujung jemari mereka bersentuhan ketika mereka pergi bersama untuk yang pertama dan terakhir kalinya. Kemudian mereka berdua hanya saling melemparkan senyum.

Maka tak heran jika sebaris kalimat itu membuatnya senang luar biasa. Indy sempat berpikir bahwa Alan sudah bosan padanya dan menemukan wanita lain, untunglah perkiraannya salah.
Tetapi apa yang membuatnya kembali secara tiba-tiba? Mengapa ia harus menghilang selama satu bulan penuh? Mengapa Alan memilih untuk mengirim pesan itu?

Selamat siang, India.

Ah, Alan. Lelaki yang tidak bisa ditebak.
Setidaknya itulah yang diasumsikan oleh Indy.
Sudah terlalu banyak asumsi yang dibuat Indy terhadap Alan. Teman-temannya sampai bosan mendengar topik yang sama dan menganggap bahwa Indy terlalu mengada-ada. Seorang teman pernah berkata padanya, kalau ia ingin tahu bagaimana perasaan Alan terhadapnya, satu-satunya cara adalah dengan membicarakannya. Mulailah dengan sebuah komunikasi.

Hmm.

Maka Indy mengambil ponsel dari saku jaketnya dan mulai mengetikkan balasan atas pesan singkat yang sudah lama didiamkannya sejak tadi. setelah berulang kali mengetik dan menghapus kalimat, akhirnya ia menemukan kalimat balasan yang paling cocok.

Selamat siang, India.

Selamat siang, Alan :)

Tuesday, December 21, 2010

Lima Belas Menit

Kamis, 9 Desember 2010. 2:54 PM.
Siang itu, Ariani duduk sendirian di salah satu bangku stasiun kereta api Cikini.
Ia memerhatikan orang-orang yang berlalu-lalang di depannya sambil sesekali melirik jam tangannya. Keretanya datang terlambat sepuluh menit dari yang seharusnya. Tipikal orang Indonesia.

3:10 PM.
Ariani dan beberapa penumpang memasuki kereta ekspres yang sudah dinanti-nantikan. Ia duduk di depan seorang pemuda.
Pemuda itu cukup menarik perhatian Ariani; ia bermata biru dan terlihat sedikit mengantuk. Ada headphones besar tergantung di lehernya. Kedua lengannya terlipat di depan, dan kepalanya mengangguk-angguk sedikit mengikuti irama musik yang sedang didengarkannya.
Sebentar-sebentar ia menoleh ke arah jendela di belakangnya, melihat pemandangan yang terlewat.
Tanpa sadar Ariani terus menatap pemuda itu di sepanjang perjalanan. Si pemuda nampaknya sadar bahwa ia diperhatikan, maka ia melirik Ariani sepintas dan melemparkan senyum kecil padanya.
Arini tidak membalas senyumannya, ia segera melihat ke arah lain karena malu.

3:18 PM.
Selama perjalanan, Ariani tidak henti-hentinya berpikir. Pemuda di depannya sudah terlanjur membuatnya penasaran. Ada banyak pertanyaan yang terbersit di dalam pikirannya.
Siapa namanya? Ketika si pemuda tersenyum padanya, apa yang dipikirkannya tentang dia? Lagu apa yang sedang ia dengarkan? Dan apakah ia selalu terlihat pendiam dan mengantuk seperti itu?
Entahlah, Ariani tidak tahu. Ia terlalu ragu untuk menanyakannya.
Dari situ, nuraninya menyarankan agar Ariani segera bertindak, karena 7 menit lagi kereta akan berhenti di tujuan si pemuda. Lagipula, katanya, tidak ada salahnya untuk mencoba.
Tetapi tiba-tiba logikanya bergerak. Buat apa tiba-tiba menanyakan hal-hal tidak penting itu kepada orang yang tidak dikenal? Buang-buang waktu saja.

3:20 PM.
Kereta masih melaju perlahan. Logika dan nurani Ariani saling berdebat kusir. Sebagai gantinya, Ariani tidak bergerak sedikitpun dari bangkunya. Ia masih merasa ragu. Bukankah aneh jika orang asing tiba-tiba menghampirimu dan menanyakan sesuatu yang tidak jelas?
Di sisi lain, Ariani ingin mengenal si pemuda—hanya sekadar tahu. Tidak lebih.
Dalam hati, Ariani berdoa.
Ia berdoa agar muncul suatu keajaiban di hadapannya.

3:25 PM.
Akhirnya kereta berhenti. Dan seperti yang sudah diramalkan, pemuda itu segera bangkit dari kursinya dan keluar dari kereta.
Di dekat pintu, ia menoleh ke arah Ariani dan menunjukkan senyuman yang sama. Ariani melihatnya, dan lagi-lagi ia tidak bereaksi. Ia kalah telak dari keraguannya sendiri.
Setelah si pemuda keluar, Ariani segera melihat keluar melalui jendela di belakangnya. Matanya mencari keberadaan pemuda, namun ia terlambat. Sang pemuda telah menyatu dengan keramaian di stasiun.
Ariani tidak pernah bertemu dengannya lagi setelah itu.
Pertanyaan-pertanyaannya tidak akan pernah terjawab.

3:30 PM.
Ariani menunggu agar keretanya berangkat. Beberapa penumpang di stasiun tersebut memasuki kereta yang ditumpangi Ariani. Di antara mereka, ada seorang pemuda yang menarik perhatiannya. Matanya kelabu dan setajam elang.
Pemuda itu duduk di depan Ariani, dan melemparkan senyuman kecil padanya.
Dan kereta segera melaju kembali.

* * *



diambil dari sini

Friday, October 1, 2010

Kepada Anda, di Masa Depan

kepada anda.

bukan berarti saya lagi nyari pasangan, tapi entah kenapa, saya bisa melihat dari sudut mata saya kalo anda ini cukup menarik.
ini aneh. dulu saya menganggap anda biasa-biasa aja, atau bahkan saya sama sekali nggak kenal anda sebelumnya. mungkin waktu itu saya terlalu sibuk mencari seseorang yang tidak ada, sehingga saya tidak bertemu anda. mungkin saya sempat berpapasan dengan anda—atau bahkan sudah terlalu sering bertemu dengan anda, namun sama sekali nggak terlintas di benak saya kalau andalah orangnya.

waktu demi waktu saya lalui, dan nanti saya akan ketemu lagi sama anda. kali itu, semuanya akan terlihat jauh berbeda. sekeliling saya menjadi lenyap kalau ada anda. saya merasa ada perasaan baru yang hinggap ketika kita saling bertemu muka. kini saya melihat anda dari sudut pandang yang berbeda.

saya sendiri nggak tau kenapa itu bisa terjadi. saya juga nggak akan bisa menebak-nebak kapan hal itu akan terjadi. terlebih lagi, saya juga nggak bisa memilih kepada siapa perasaan khusus itu akan datang. tapi Dia sudah menentukan semuanya. Dia masih belum memberi tau siapa, di mana, bagaimana, dan kapan, tapi saya tau pasti bahwa anda adalah orang yang dimaksud.

ya, anda. anda adalah orang yang tepat buat saya. dan saya memutuskan akan menyambut anda dengan sukacita. karena Dia tidak pernah salah pilih, iya kan?

oleh karena itu, saya mau berterima kasih yang sebesar-besarnya kepada anda. saya mau ngucapin terima kasih karena anda akan memberi saya kesempatan kedua untuk menjadi diri saya sendiri. saya mau berterima kasih karena rasa sayang yang akan anda berikan buat saya, yang belum pernah anda perlihatkan ke orang lain sebelumnya. saya mau berterima kasih atas hari-hari yang nantinya kita lewati bersama; hari-hari menyedihkan, menyenangkan, mengundang tawa dan amarah. hari-hari itu tidak akan pernah saya lupakan seumur hidup saya.
dan saya mau minta maaf kalau saya kurang bisa menjaga sikap dan mudah terseret emosi. namun kesabaran anda yang luar biasa yang akan membuat saya mampu menahan emosi yang meluap-luap itu nantinya.

saya yakin anda akan kaget saat menerima surat ini. tapi setelahnya anda pasti akan tersenyum mengerti. karena ketika anda membaca surat ini, anda sudah bertemu dengan saya dalam kesempatan yang lain. dan bisa jadi, anda sudah menyelesaikan rencana yang diatur oleh Dia.

bisa jadi anda akan sedang membaca surat ini bersama saya.

sekali lagi, saya nggak tau kapan kesempatan itu bakal datang. tapi saya tetep percaya. karena nggak ada yang nggak mungkin bagi Dia. saya yakin anda juga tau itu.

akhir kata, saya akan sangat menanti kehadiran anda di saat-saat yang nggak terduga. saya akan menunggu waktu yang tepat.



salam,
saya di masa lalu

Wednesday, August 4, 2010

iseng-iseng (tidak) berhadiah

kira-kira setahun yang lalu, gue sempet ikutan lomba bikin cerpen di sekolah. lumayan dapet juara 3, hadiahnya 3 buku novel mini (yang gue asumsikan modalnya cuma 50 ribuan. tau gitu mending dapet mentahnya aja, ya gak?). judul cerpennya Pensil Mekanik. kenapa pensil mekanik? silakan scroll down untuk mencari tahu.

Sunday, February 1, 2009

realita, mimpi, dan secangkir teh

1 februari 2009

secangkir teh hangat menjadi satu-satunya temanku pada malam itu. layar komputer di depanku masih menyala, masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. sementara orang lain terlelap, aku terbangun.
ada satu teman lagi yang menemaniku dari seberang sana. itu adalah dia. kami berdua terhubung dengan sebuah jaringan maya yang tidak terlihat. kami hanya membicarakan hal yang tidak penting. hal-hal yang biasa. sesuatu yang mungkin tidak ingin kamu ketahui.

suatu ketika, ia bertanya kepadaku. pernahkah kamu bermimpi? katanya.

tanpa pikir panjang aku menjawab, tentu saja. setiap orang pasti pernah bermimpi. mimpi kan bunga tidur.

ia hanya tertawa.

lho, apa yang salah? yang aku bilang tadi itu benar, kan? aku memprotes.

yang aku maksud itu, katanya, impian kamu. cita-cita.

aku tidak membalas kata-katanya barusan. impianku? cita-cita? apa ya? waktu kecil, aku punya banyak cita-cita. ingin jadi ini, ingin jadi itu. ingin pergi ke sana, ingin pergi ke sini. semua pikiran itu menghilang seiring berjalannya waktu. sekarang aku terlalu memikirkan kehidupan di alam nyata. mimpi? aku terlalu sibuk untuk memikirkan hal sepele seperti itu.

atau sepertinya aku tidak punya mimpi.

meski tidak melihat, aku bisa merasakan ia menatapku dengan aneh. keningnya berkerut, kedua matanya menyorot tajam padaku.

masa? jawabnya. tadi kamu bilang setiap orang punya mimpi.

aku berpikir sejenak, lalu mengetik balasan.

tapi pada kenyataannya aku tidak punya mimpi. sampai kamu menanyakannya, aku sama sekali tidak pernah memikirkan cita-cita. aku sibuk.

oh. sahutnya singkat. kasihan kamu. terlalu bergantung pada realita.

teh yang kuteguk terasa dingin di tenggorokan. ya, dia benar. aku terlalu sibuk memikirkan pekerjaan dan hidup di depanku. aku terlalu bergantung pada realita. dan dengan mudahnya kenyataan-kenyataan itu memusnahkan cita-citaku. semudah aku menghabiskan teh ini.

aku meletakkan cangkir teh dan kembali mengetik.

aku terlalu takut mengikuti mimpi-mimpi itu. aku takut mereka akan berbalik dan memakanku sampai habis.

atau mungkin tidak, balasnya. yang penting kamu punya tameng perlindungan agar mereka tidak menyerangmu.

apa?

realita...

aku mengerutkan kening sejenak. sedetik kemudian aku tertawa.

bagaimana mungkin aku harus menggunakan realita untuk melindungi diri dari mimpi? tadi kamu bilang aku terlalu bergantung pada realita.

memang, katanya kalem. tapi bukan berarti hidup kita harus selamanya diatur oleh mimpi kan? di kala kita dibuat sedih oleh mimpi, realita yang memotivasi kita untuk kembali bangun. perjalanan kita masih jauh...

oh.

terjadi keheningan yang lama di antara kami.
di saat aku mulai terbiasa, ia memecahkannya.

aku harus pergi.

ke mana? tanyaku.

mengejar mimpi.

kali ini kami berdua tertawa bersama.

ia pun pergi. akhirnya aku hanya sendirian di sini. bersama mimpi dan realita yang berada di belakangku.

dan teh yang kuminum tadi, kini cangkirnya telah kosong.

* * *

Friday, December 5, 2008

this is how we met

2 years ago, new york central park.
adam merasa suntuk di rumah. maka ia memutuskan untuk jalan-jalan mengitari taman dengan sepedanya.

di perjalanan pulang, seekor anjing siberian husky berjalan mengikutinya. adam terpaksa turun dari sepedanya karena takut sepedanya akan melindas anjing itu. ia berjongkok untuk melihatnya lebih dekat.

http://cdn-www.dailypuppy.com/media/dogs/anonymous/jake_siberian_husky_01.jpg_w450.jpg


"hey little buddy," sapanya sambil tersenyum. "kamu ini anjing liar ato ada yang punya?" tanyanya pada anjing itu. ia melihat ada dog tag yang terpasang di lehernya, maka ia segera melihatnya. "hemm. rover. berarti bisa jadi lo dibuang ato hilang. oke, untuk sementara lo gue tampung di rumah dulu."
* * *
rumah adam.
"TIDAK." kata jessie, kakak adam dengan nada sengit.
adam merajuk. "ahh ayo dong. kasian nih anjing terlantar di central park tadi." ia mengangkat anjing itu ke depan muka jessie.
"gue sih oke-oke aja. tapi orangtua kita kan nggak ngebolehin kita melihara binatang. apalagi anjing! bisa-bisa perang dunia ketiga." sahut jessie sebal. sebenarnya jessie tidak tega, anjing itu juga keliatan manis. tapi ia harus tetap mematuhi peraturan yang ada.
adam cemberut lagi. "apapun yang terjadi, gue bakal tetep melihara rover."
"dan bahkan udah lo kasih nama?!"
"ada kalungnya." adam menunjukkan dog tag yang dipakai rover. "wah, berarti ada yang punya." kata jessie.

"jadii?"
"hmmmmph. terserah lo ajalah. tapi gue gak mau tanggung jawab ya kalo sampe ketauan."
adam tersenyum lega. tiba-tiba rover menggonggong, membuat jessie kaget.
* * *
dua hari kemudian, orangtua adam pulang dari liburan. "jessie, adam! kita bawa oleh-oleh nih." seru mr. parks. adam buru-buru menyembunyikan rover ke bawah ranjangnya, mengunci pintu kamar dan buru-buru turun ke ruang tamu.
"hai. gimana liburannya?" tanyanya seolah tidak terjadi apa-apa.
"menyenangkan. harusnya kamu ikut juga--HATSYII!" tiba-tiba mrs. parks bersin. "aduh, jangan-jangan alergi mama kambuh. di dalem rumah ini ada anjing ya?"

glek. suasana berubah jadi tegang. jessie dan adam saling berpandangan. untungnya adam bisa menyelamatkan situasi dengan menjawab, "oh! kemarin ada temenku yang dateng ke sini sambil bawa anjingnya." jawabnya seasalnya. padahal adam tau persis, satu-satunya temannya yang punya anjing tinggal di illinois.
kening mrs dan mr. parks berkerut. "kamu... nggak melihara anjing kan?" tanya mr. parks curiga.
"enggak kok enggak!" jawab adam cepat. "hmm. ya udah kalo gitu. kita capek, mau istirahat dulu. jangan sampe ada masalah baru."

setelah mereka masuk kamar, barulah jessie dan adam menghela napas lega.


jessie melemparkan tatapan yang mengerikan ke arah adam.
"JANGAN sampe terulang lagi."
adam mengangguk ragu.
jessie menyambar baju yang dibelikan orangtuanya, kemudian memasuki kamar dan agak membanting pintu.
* * *
keesokan harinya, mrs. parks melihat adam sedang sibuk mengacak-acak isi kulkas.
"adam? ngapain kamu?"
adam menghetikan kegiatannya. tubuhnya seperti membeku. ia menoleh perlahan. "ehem," katanya.
"ya?"
"ehh...." adam mati kutu.
mrs. parks mengangkat kedua alisnya. ia menyadari ada sesuatu yang tidak beres.
"...aku... aku laper." ia berbohong.
mrs. parks memutar matanya, kesal. "hah, ya ampun! kirain apa. tadinya tuh mama kira kamu diem-diem mau ngasih makanan ke anjing!"

nice guess, pikir adam.

"tapi ma... kenapa sih mama sama papa nggak suka sama anjing?" tanya adam penasaran. "hh. kamu taulah. anjing itu suka cari perhatian, mengganggu, dan senengnya main kotor-kotoran. selain itu mama kan alergi sama anjing."
"yah, tapi kan nggak semua anjing kayak gitu--"
"cukup, adam. pokoknya kita nggak suka ada anjing atau binatang apapun ada di rumah ini. ngasih makan kalian berdua aja udah repot, mau ditambah peliharaan lagi? ngerepotin aja." setelah mrs. parks selesai menguliahi adam, ia berjalan menuju dapur.

adam menghela napas panjang.
* * *
setiap sore, adam selalu mengajak rover jalan-jalan--entah itu keliling central park atau cuma sekedar mengelilingi komplek rumahnya. tentu aja itu dilakukannya diam-diam. ia menitipkan anjing itu kepada tetangganya.

suatu hari, ketika adam pergi ke sekolah, mrs. parks menyempatkan diri untuk ke kamar anak bungsunya. sesampainya di sana, mendadak ia langsung bersin.
"hmm. aneh. padahal di sini nggak ada anjing."
ia berniat untuk membuka lemari pakaian adam, ketika ia terkejut melihat rover melompat keluar dari lemari, ke arahnya. ia berteriak marah.
* * *
jessie kembali ke rumah di sore hari. ibunya langsung menyambutnya.
"jessie."
"yaa?" sahutnya sekenanya, sambil mengambil minuman di kulkas. "kamu tau di kamar adam ada anjing?"
jessie tersedak pepsi. mrs. parks memasang raut muka kesal. "KAMU UDAH TAU?"
ia meletakan kaleng pepsi yang kini kosong itu ke atas meja. ia membersihkan tenggorokannya.
"ehem. iya ma."
"dari kapan?"
"ngg seminggu yang lalu."
"ya ampun, pantesan aja mama nggak berhenti bersin-bersin dari kemaren! aduuuuh. kalo sampe papa kamu tau gimana?" ia bertumpu pada meja dapur dan duduk di kursi.
"mom, I'm home!" dateng juga si adam. suaranya terdengar ceria. ia diam melihat jessie dan ibunya. suasananya berubah jadi tegang.

adam merasa ada sesuatu yang nggak beres. mungkin jessie meminjam blus ibunya dan nggak dibalikin lagi? mungkin mrs. parks tau bahwa minggu lalu jessie menuang terlalu banyak detergen ke cucian? mungkin mrs. parks sudah tau tentang keberadaan rover?

"adam." kata mrs. parks.
"ya?"
"kamu.... melihara anjing diem-diem ya?"

glek.

"kamu tau peraturannya kan, adam?"
"iya, tapi--"
"kamu tau kan?" potong mrs. parks.
adam terpaksa mengangguk. mrs. parks menggelengkan kepalanya dengan kesal. "kalo gitu, apa boleh buat... kamu harus buang anjing itu sekarang juga. sebelum papa pulang."
"tapi ma!"
"ADAM. nggak ada tapi-tapi. kamu buang sekarang."
mau nggak mau, adam segera membawa rover ke luar rumah. ia memutuskan untuk membawanya kembali ke central park.
* * *
central park, new york.
adam melepas anjing itu dengan perasaan agak kesal. ia berdiri, menunggu supaya rover pergi jauh darinya. namun ternyata ia tidak bergerak.
ketika adam berjalan menjauh, rover mengikutinya. saat adam bergerak ke kiri, anjing itu ikut bergerak. adam makin kesal. ia duduk bersila di atas rumput, dan rover ikut duduk sambil terus menatapnya. "ini sih gimana gue bisa rela ngebuang lo! mama ada-ada aja nih!"
adam balas menatap rover.
"stop staring at me!" katanya.

seolah mengerti, rover mulai beranjak dari tempatnya. sementara itu, tak jauh dari tempat adam duduk, ia melihat ada selembar kertas. "hh, masih ada aja yang buang sampah sembarangan." keluhnya sambil mengambil kertas itu dan membacanya. ternyata itu adalah selebaran tentang orang yang kehilangan anjing peliharaannya, anjing siberian husky.

dan namanya rover.

adam cepat-cepat berdiri dan mencari rover.
* * *
adam dan rover berdiri di depan pintu rumah yang dimaksud di selebaran tersebut. rumah itu cukup besar dengan halaman yang luas.
adam menelan ludah. ia menekan bel. semenit kemudian, muncullah seorang gadis kecil dari balik pintu.
"ya?"
"ehem. gue... baca selebaran yang disebar di central park. gue nemuin anjing yang dicari... kamu pemiliknya?"
anak itu menatapnya sebentar. "claaaaaaaaiire!" jeritnya. adam kaget. kemudian, muncullah cewek yang dipanggil claire. ia tinggi, berambut hitam, dan sangat cantik menurut adam.
"yea yea I'm coming, audrey... oh, hai. ada perlu apa?"
"ehhh. ini... lo kehilangan anjing kan? gue yang nemuin." kayaknya rover nyadar kalo dialah objek pembicaraan hari ini. maka ia menampakkan diri di hadapan claire dan audrey.
raut wajah mereka berubah ceria. "rover!!" rover menggonggong dan berlari ke arah mereka.
makasih banyak ya.... ehm, siapa nama lo?" kata claire.
"adam."
"oh. sekali lagi makasih."
"haha, nggak papa kok. ya udah gue balik dulu ya."
ketika adam bersiap pergi, claire mencegahnya. "eh, tunggu sebentar! lo nggak mau masuk dulu? sekedar minum teh, gitu...?" ajaknya.

adam tersenyum. ia mengangkat alisnya. "hmm. mungkin bukan hari ini. gimana kalo besok lo gue ajak jalan?"

claire tersenyum lebar. ia mengangguk. "oke! besok nih ya?"
-tamat-

Wednesday, October 29, 2008

you've got me looking in through blinds

~opening act
judul yang sama sekali gak ada nyambung-nyambungnya.... -_- and again, sori dori mori for the late update. I've got many obstacles everytime I want to finish this post [contoh hambatan: males ngetik, keseringan nonton tv, keseringan jalan, dsb dsb dsb] *ditimpuk*

well, hepi reading anyway :]

update: happy birthday to me, happy birthday to me! :D
* * *
kantor redaksi Jinx! magazine. 10:59 pm.
"katie, have you finished the article?"
"I'm working on it..."
katherine pattinson dan ryan ross bekerja di kantor redaksi majalah yang sama. dan hari itu merupakan hari tersibuk bagi mereka.
ryan mendatangi meja katie dan meletakkan secangkir frappuccino. ia berpaling sedikit dari layar komputer. wangi kopi telah menarik perhatiannya.
"thanks, ryan." ujarnya sambil tersenyum.
"you need some energy. you've been working for hours." jawab ryan singkat lalu ia pergi ke tempat kerjanya.
katie menyeruput isi cangkir tersebut, kemudian mulai bicara lagi. "anyway... next sunday, are you busy or something...?"
ryan mengangkat bahu. "or something? hahaha, joke. no, I'm free next sunday. is there anything you want to ask for?"
"actually, I have two tickets for a jazz festival at madison square garden... and I'd like to ask you to join in, and umm..." katie nampak gugup.
"oh, that's perfect. of course I'll join in."
"really?"
"yeah. why?"
"no... it' just, I've never thought that you like jazz." kata katie sambil tertawa. ryan merespon dengan tersenyum singkat. ia menoleh ke arah jam dinding. "oh crap, I'm so late. I must go home now."
"then go."
"but I can't leave you alone here."
"I'm oookay, dear. trust me."
"hahaha. right... see you soon, kat! AND don't force yourself."
"don't worry I won't. good night."
setelah itu, ryan meninggalkan katie sendirian di kantor redaksi.
* * *
satu jam kemudian, akhirnya katie berhasil menyelesaikan pekerjaannya. keluar dari kantor, ia berjalan menuju parkiran tempat mobilnya berada.


di jalan, sesekali ia menatap tiket jazz festival yang akan didatanginya bersama ryan dengan tersenyum lebar.
he accepted my invitation? what does it mean.... a date? ah, no. don't be so stupid, kat. he just likes it and that's all. besides, he already has a girlfriend--wait a minute. is ryan officially dating jessie? hmm, this is confusing me.

ia terlalu memusingkan masalah ryan dan jessie sampai ia tidak berkonsentrasi menyetir. akibatnya, katie tidak melihat bahwa sebuah mobil di depannya nyaris menabraknya. begitu ia tersadar dari lamunannya, dia spontan banting stir ke arah berlawanan dan mobilnya menghantam sebuah truk pengangkut besar. mobilnya hancur.

dalam kondisi setengah sadar, katie bisa mendengar sayup-sayup suara orang-orang yang berdatangan untuk menolongnya. namun ia tidak bisa melihat situasi tersebut karena semuanya terlihat gelap.
* * *
katie's POV.
California Hospital Medical Center. 7:12 am.
bau-bauan yang aneh membangunkan gue. meskipun gue belum sepenuhnya sadar, tapi gue tau kalo sekarang ini gue lagi ada di rumah sakit.
kepala gue terasa sangat pusing pas gue berusaha untuk bangun. pandangan gue gelap, dan gue bisa merasakan sesuatu yang menutupi kedua mata gue. perban?

I don't feel good.

...dan gue nggak bisa melihat apapun.


OK, this is not good.

terdengar suara seseorang membuka pintu. gue refleks langsung menoleh.
"hey, katherine." sapa orang itu. "don't worry, my name is edd. I'm your doctor to take care of you." oh jadi dia dokter toh.
"what happens to me?" gue nanya. well, sepertinya gue udah tau jawabannya.
"hmm..." ia berpikir sebentar. "it's all because of that accident."
"yeah, then?"
"I've read about your condition, and... your cornea was totally damaged. sorry miss, you lose your sight. we are afraid it's going to be permanent."

I can't believe this. gue kehilangan kemampuan gue untuk melihat. gue buta. ini semua gara-gara kecelakaan kemarin. gue langsung merasa lemas.

"but... can I have it back? I mean, I still can see again, right?"
dokter itu diam.
"well... if someone wants to give his or hers, then your eyes will be back normal. and you must stay here for a while for medical treatment. I got to go. see you soon, miss katherine." dan ia pergi.
* * *
beberapa hari kemudian, temen-temen di redaksi datang menjenguk gue. itu berarti... ryan juga dateng.
"heyy katie! oh my god, look at you. we're so sorry about your condition." kata sebuah suara yang gue sinyalir adalah suara deanna, sahabat baik gue. "that's ok. thank god I'm still alive." sahut gue berusaha meyakinkan mereka dan tersenyum. gue bisa merasakan keprihatinan mereka.
"hello, kat. I hope you get well soon." ujar ryan singkat. itu aja udah cukup untuk membuat gue bahagia. "yes, thank you very much!" gue menjawab dengan senang.
"and what doctor said to you?" kali ini giliran mia yang bertanya.
"hmm, not much. he said he could make my eyes getting back to normal, as long as someone wants to give the cornea." gue menjelaskan.
"oh."
"well... I really want to see you again at the office. I hope you're going to be okay." deanna menyemangati. ia menggenggam tangan gue.
"thanks. you're my best friend ever."
"you're welcome, kat."

"well it looks like it's time for us to go. see you soon, katie." kata mia tiba-tiba. oh iya, gue lupa. mereka kan masih ada pekerjaan.
* * *
normal POV.
malam harinya, seseorang mengetuk pintu kamar katie.
"who is that?"
"guess who..."
cewek itu tersenyum lebar. "ryan, right?"
"damn girl, you are a good voice detector." katanya bernada protes. katie tertawa. "I bring you sunflowers, your favourite."
"thanks." well. dia selalu tau apa yang katie suka, dan apa yang enggak. and that makes her love him.
"you've done working, hmm?" dia iseng-iseng bertanya. meski nggak bisa melihat, katie bisa mendengar suara langkah sepatu ryan, dan duduk di kursi di dekatnya. "hmm. actually I haven't. but I came here because I care about you. is that wrong?"
"no, no! it doesn't mean I don't want you to come. but..." kalimatnya terpotong.
"but what?"
"is that all? no... any particular reason?" katie berusaha memancing ryan.
ryan nampak berpikir sebentar. "no, that's all I guess." katanya.
"oh..." katie nampak kecewa. "anyway, have you been falling in love recently?"
"ha, I never thought of such things. I've been busy working lately." jawabnya enteng. sesaat katie merasa lega. berarti soal jessie dan ryan pacaran... itu cuma gosip.
"oh, I see." katie merespon sambil tersenyum.

"and why do we suddenly talk about this?"
"just wondering, ry. am I wrong?"
"haha... okay. hey, do you want some apple? because I want to have one." ia mengalihkan pembicaraan, seraya mengambil apel di atas meja.
"well I'd love to."

10:00 pm.
"okay, kat... I guess I should go home now." ryan mengakhiri kunjungannya. "see you soon, sweetheart."
"haha. yeah, see you soon."

I wish he truly calls me sweetheart...
* * *
hari berikutnya, 5:21 pm.
"hello, kat."
"oh hey, deanna. come in!"
"I bring you some food and--hey, what a beautiful flower. who brought this?" tanya deanna.
"you probably won't believe it... ryan did."
"wow! he is so sweet. I think he likes you." ujar deanna antusias. "hmmh, I don't think so. he just brought flowers! it doesn't mean anything. besides... he said he's too busy to think about love." tukas katie sedikit kecewa.
"don't be silly... just be positive okay? I'm pretty sure you and him will be happily together."
"you think so?" katie masih ragu.
"yes."

tiba-tiba ryan muncul di belakang deanna. "I guess I must leave you alone. good luck, katie." bisiknya. kemudian ia langsung pergi keluar.
"hey ryan. you come so often."
"hey dean. yeah... I'm just quite bored at the office."
deanna pergi.
"ryan is that you?"
"yes, it's me. hey, there's a lotta food in here."
"deanna brought them for me." sahut katie. "great, I'm starving!" kata ryan yang kedengeran kayak anak kecil. katie cengar-cengir.
"what so funny?" tanya ryan di sela-sela kegiatannya memasukkan sesuap yoghurt ke mulutnya.
"nothing... hey, I'm hungry too. hospital food makes me sick. can I have one?"
"okay. just open your mouth. here you go..." katie membuka mulutnya dan ryan menyuap yoghurt ke mulutnya. "thanks."
"you're welcome."

"good afternoon, miss katherine. this is doctor edd--oh, you're having a good time now with your boyfriend." sejenak katie merasa salah tingkah, namun ia berhasil mengatasinya. "ehm, he is *not* my boyfriend."
"really?" edd langsung beralih pada ryan. "excuse me, mister..."
"ryan. just call me that."
"okay. I'm sorry ryan, but I must check her condition. could you wait outside for a while please?"
ryan mengangguk.

tidak lama kemudian, ryan diperbolehkan masuk kembali.
"any good news?" tanyanya.
"actually it is very good."
"tell me."
"next week, I'm going to have a surgery. finally someone wants to give his cornea for me!"
"oh wow. that's nice! congratulations, katie."
katie langsung memeluk ryan saking senangnya. ryan membalas sambil tersenyum.

katie's POV.
malam sudah larut.
"ryan, can I ask you a favour?"
"sure. what is it?"
"I'm bored stay alone at the hospital, so could you... stay here with me untill tomorrow?"
ryan nampaknya berpikir sebentar. "okay, I'll stay here for you."
"promise me you won't leave me?"
ryan meraih kedua tangan gue lalu menggenggamnya erat-erat. "I promise I won't leave you."
gue langsung blushing. "...thanks dude. you are very kind."
"all for my best friend."
oh.
ya sudahlah. yang penting dia mau nemenin gue di rumah sakit.
* * *
keesokan harinya.
gue bangun dan tangan gue menyentuh sesuatu. tangan? oh, dia masih ada di sini. he keeps his promise. gue jadi terharu.
tangannya bergeser. rupanya ia terbangun.
"good morning, kat."
"hey, good morning." sahut gue sambil tersenyum.
"see, I keep my promise. I never leave you."
"okay... thank you."
"and now I must go back. because I have lot of things to do. is that alright?"
"that's okay."
"I'll see you around, kat!"
"yeah okay."


gue hanya nggak menyadari. itu adalah pembicaraan terakhir antara gue dan dia.
* * *
normal POV.
sehari sebelum operasi.
"whoa I can't believe you finally did that." respon deanna takjub setelah katie menceritakan semuanya.
"you don't know how nervous I was. but I must admit that he was so sweet to me... is it a sign?"
"I told you."
"anyway, do you know where he is? because he's never coming back after that." tanya katie. "you know, I want him to be in my side while I'm doing the surgery."
reaksi deanna berubah seketika. "uhh, I don't know."
"is he okay at the office?"
"yes, yes. he is totally fine."
"then what happen?"
"nothing happens."
"deanna, please. don't lie to me. I know something happens."
sunyi.
"katie, listen--"

katie's POV.
"hello, kat. sorry I haven't seen you for a long time." tiba-tiba ryan langsung muncul. "got to go now, kat. the guy you're looking for is here." bisik deanna. dan ia langsung pergi.

"hey... katie."
"hi, ryan. where have you been?" gue bertanya.
"so... deanna hasn't told you before?"
"about what?" tentang apa? deanna nggak pernah cerita apa-apa. "tell me, ryan."

"katie, I want you to know." suara ryan terdengar sangat bahagia. so I guess he's going to propose me.... wait. this is too fast. tapi mungkin juga kan? after everything he did to me...

come on, stop your stupid dream katie.

hey, who's talking?

your conscience.

hahaha. very funny. so I'm talking to myself?

trust me, kat. ryan doesn't love you. he has found someone else.

and why should I trust you?

just see...

"katie?"
"yes?"
"I want to introduce you... to jessie. I'm going to marry her next week." katanya masih dengan nada riang yang sama.
senyum gue memudar. apa yang ada di kata hati gue benar. I should have stopped all of those stupid dreams, because he doesn't love me.

he loves jessie.

bibir gue seperti beku.

normal POV.
"could you... could you leave me alone, please?"
"what? why?" tanya ryan.
"just leave."
"but kat--"
"GO AWAY FROM ME!" teriak katie. ia melemparkan bantal di dekatnya, namun tidak mengenai ryan ataupun jessie. bantal itu mengenai vas berisi bunga matahari dari ryan. vas tersebut jatuh dan pecah.
"Katie, I don't understand what happen to you! I..." namun deanna langsung masuk ke kamar katie dan menyuruh mereka berdua keluar. di sana, ia menarik ryan ke tempat yang agak jauh dari jessie.

"what the hell were you doing?!"
"doing what?" ryan nggak mengerti.
"are you trying to murder her?"
"what are you--of course not! what are you talking about?"
"she loves you, ry." kata deanna akhirnya. jelas aja dia langsung kaget. "she loves you... but she couldn't tell it. and now you're going to marry someone else while her condition is like this!"
ryan kehabisan kata-kata. ia tidak tau harus bicara apa.
"then what am I supposed to do?"
"leave her. stay away from her." setelah itu, deanna memasuki kamar katie dan menutup pintunya.

"what happened, ry?" jessie mendekati ryan. ryan hanya menggeleng.
"nothing happens."

di dalam kamar katie.
katie duduk di atas tempat tidurnya, memeluk kedua kakinya.
"katie... katie, this is deanna." ujar deanna pelan sambil mendekati katie. ia langsung memeluknya untuk menghibur sahabatnya itu.

katie menangis sejadi-jadinya.
* * *
dua minggu kemudian. Westside Pavilion Mall.
"my god, ryan! I can't believe we can meet here!" ujar katie antusias. cowok itu menoleh. "hey kat. I see you look better now."
"yeah... I can see again, finally. um, where's jessie?"
"she's not coming with me. it's my time to be alone."
"oh."
"do you mind walking with me?" ajaknya.
"not at all." respon katie sambil tersenyum.

beberapa jam dihabiskan mereka untuk jalan-jalan berdua. banyak hal yang dibicarakan mereka.
"It's been a week... after my marriage with jessie." kata ryan tiba-tiba.
"haha, yeah. too bad I couldn't attend it. I was too busy preparing my movement." sahut katie ringan.
"what? you're leaving LA?" katie mengangguk. "I'm going to move to minnesota tomorrow, to find a better life there."
"but... this is too fast. you haven't told me anything yet."
"I know."

sunyi.

"deanna has told you anything, hasn't she?"
ryan mengerti apa yang dimaksud. "yes, she has."
"so, before I go... let me get this all straight." katie menoleh ke arah ryan.

lalu menciumnya.

ryan balas mencium katie.

"goodbye, ryan." bisiknya sambil tersenyum lirih. namun ryan hanya menatapnya tanpa mengucapkan apapun.
ia langsung berbalik dan pergi meninggalkan ryan. di jalan ia menyeka air matanya.
* * *
katie's POV.
beberapa bulan kemudian. apartemen di minnesota.
gue sedang sibuk mengerjakan tugas artikel gue ketika sebuah e-mail masuk ke inbox.

gue tersenyum melihat nama pengirimnya.



from: ryan ross
to: katherine pattinson
subject: how are you? (:

-tamat-

Monday, September 22, 2008

dear, secret admirer.

~opening act
aheyy. one shot kali ini agak-agak beda nih. kali ini, cerpennya total pake bahasa inggris, baik narasi ataupun dialog. dan harap dimaklumi kalo kualitas bahasa inggris gue emang kayak kambing. inipun masih dalam tahap penyempurnaan.... hehe.

happy reading! :)
* * *
david opened the hallway door to the frontside. when he was getting ready to go out, he saw a blue envelope hanging on his fence. there's his name on it, handwritten: to david.

he raised his eyebrow.
* * *
central high school, philadelphia.
"ah, lunch time. finally! I'm starving." nate sighed a little while he was sliding his tray to sandwich box.
"haha, I see you're always starving like that dude. you're getting bigger like a whale."
"shut up."
they sat onto a nearby table and start to eat their lunch.

"by the way, nate... you got to see this." said david. he pulled out the envelope from his bag and put it onto table.
nate stopped chewing. "ah, that letter. you received it again?" david nodded.
"gosh, it's been one week!"
"well I'm just wondering who the sender is... because it's getting annoy me."
"yeah I know. keep sending someone a mail regularly and anonymously, kinda... creepy, right?" nate said quickly and took a sip on his iced coffee.
"uh-huh."
"but I see you seem enjoy it as well." he raised his eyebrow, teased david.
david looked upset. "what? course not!"
"ahha. really? and who do you think the sender is? boy or girl?"
"a girl... maybe? I don't know." he shrugged. "well keep hoping that the the sender is NOT a drag queen." nate continued and laughing. david rolled his eyes.

"I thought it's a girl... because, there is someone who've been locked in my mind." he said while he keep stuffing food into his mouth. "who?"
"I don't know. she always walks passing my house, and sometimes she peeks inside."
"ew, sounds creepy. perhaps she's your secret admirer?"
"gah, it can't be."
"no, it can be." nate said calmly.
"by the way... school party is two weeks to go. have you got someone to go with?" david asked him. nate shook his head. "not exactly... and do you know a band called the lost memories?"
"nope. what's that?"
"I heard they'll have a performance at the party. a random indie band."
david just nodded slowly, seemed not pretty interested.
* * *
david's POV.
next day, I received another mail again. but now is different. the paper is empty.

when I said empty, I mean it.

I saw that girl again this afternoon, and it really makes me curious. so I decided to call nate.
"hey nate. I saw her again. and I received that mail again. but the paper was empty."
"maybe she forgot to write something?" he asked.
"I have no idea! it makes me crazy."
"why don't you just follow her? stalk her back. perhaps you'll get her name or her address... or everything." he suggested. hmm, good idea.
"OK, I'll try. you should use your brain more often. ahaha."
"ha, yeah. thanks a lot." then he hung up the phone. and I decided to stalk her, like nate said to me.
* * *
there she is. she's walking slowly along an empty path. then suddenly she turns left and get into a house. so.. it looks like that is her house, isn't it?
I can see the name board.

parker.

aha! so her last name is parker. and I already know her house. so she lives not so far from me, eh? pretty interesting.
then I turned away and made my way home.
* * *
"so what did you get?" nate asked me, surprisingly.
"err, just her last name and her house, I guess."
"oh."
we were having this stupid conversation on our way to my house when someone put something under my fence. hey, I could recognize the face... that bla-bla-bla parker.
she saw us and suddenly ran away.

"hey, wait!" I shouted and chase her. nate followed me.

a few hours later, I caught her. finally. I quickly grabbed her arm. hah, call me the flash. nobody can run faster than me... well if I'm not mistaken.

she turned at me. there's no fear in her eyes, just a calmness.
"can I help you?"
"help yourself. what's your point sending me a letter for one week?"
"is there... any problem?" she looked curious.
"yeah, you are the problem. it's freaking me out!"
"oh... I see. sorry."
"now why do you--"
"charlotte, it's time to home, young lady!" someone called her. I thought it was her dad. "I'm coming! well, gotta go for a while. speak to you later." she smiled to me and walked away.


this is confusing.
* * *
a month passed. I didn't receive any mail. has she given up yet?

not exactly.

I was sitting outside, playing a song with my guitar. then a not-so-old man appear in front of my house. he wore black suit.
"can I help you?" I asked politely, put my guitar and stood up. I thought he wanted to ask an address or something.
"do you still remember my daughter?" he asked.
I tried to remember. "OH! yeah. I still remember her. why?"
"well... she died last month. brain cancer."

I shocked... a bit.

"in the day before her death, she wrote a letter and asked me to give it to you a month after that." he continued while giving me a blue envelope.
I take it slowly, opened it up and read the letter.

dear david
I know, it annoys you a lot when I keep sending you letters. but that's the only thing I can do. I can't speak properly whenever you're near me... only to say I love you.
and now I'll leave you alone. but before I go, let me be honest and clear. deep down in my heart, I wanna be with you. but my little heart said I must stay away. so I do it. now I'm peacefully in heaven. I hope you can visit me, soon...

love, now and always,
charlotte

I couldn't say anything. my heart was full of regret and sadness.

I should have known her a long time before...

"thank you very much, son. my daughter will be very happy up there." he said, tried to smile instead of cry. and then he left me.



* * *
ten years later.
until now, I still keep that envelope. it's being the part of my history. and sometimes, I can feel her appearance here, between my family.

"hey dad, what is it?" andy, my little kid, came to me and gave me a blue envelope. I just smiled.
"nothing, nothing. now let me have it."

Saturday, August 30, 2008

keep starving to be safe

~opening act
sebelumnya... minta maaf dulu nih. soalnya bahasa inggris gue emang ancur banget. dan gue gak maksud membuat brendon urie jadi kayak gitu kook. sumpah!

enjoy this trash!
* * *
sheila's POV.
di suatu malam, seperti biasa gue melakukan kegiatan rutin gue: online msn, ym, facebook, friendster, ..... dan masih banyak lagi [maklumlah, namanya juga anak gaul. punya account harus banyak] *pletak*. gue juga bikin proyek novel. disebut "proyek" karena novel yang gue buat ini tujuannya emang cuma buat main-main.

nggak lama, valina, best online buddy gue menyapa di messenger.

valina : kapan siih panic at the disco mau manggung di jakarta??
ella : ahh, gak tau. gue sih udah pasrah
valina : album kedua mereka kan udah keluar. harusnya udah bisa tur keliling dunia dong
ella : nggak bisa ngomong apa-apa deh gue. cuma bisa berharap...
valina : bentaran deeh... biar gue cek dulu


yap, nggak usah heran kenapa gue dipanggil ella. itu memang nama panggilan gue. agak-agak nggak nyambung memang. sheila=ella? hmmm.

sambil nunggu valina, gue memainkan lagu yang ada di komputer. some random shit. lagu pertama, daphne loves derby. judulnya simple, starving to be safe.

beberapa detik kemudian, valina mengirimkan pesan dengan hebohnya.

valina : ella, ella!!
ella : apa?
valina : panic la, panic! mereka mau dateng ke sini tanggal 17 agustus nanti!
ella : ......
ella : eh.... serius lo? 17 agustus gitu?
valina : benerann. lo cek aja sendiri kalo nggak percaya!
ella : nanti deh gue cek.. udah terlanjur males sama music events.
valina : ohh oke oke.
valina : eh la, gue mau offline dulu ya
ella : oke... dadah!
valina : daaaahh.
valina has signed out from messenger

* * *
dua bulan kemudian.
jadi intinya, panic bener-bener mau konser ke sini. WOW. itu adalah keajaiban yang nggak terduga. dan 2 bulan berlalu setelah kejadian yang aneh itu. gue udah beli tiket, udah mempersiapkan segalanya untuk konser yang bakal berlangsung 8 HARI LAGI. gue nyaris koleps.

malam harinya gue gelisah, nggak bisa tidur. mikirin konser yang akan seperti apa. ini adalah pertama kalinya mereka tampil di sini.
lama-kelamaan gue ketiduran juga.
* * *
esok harinya, kamar sheila.
masih jam 6 pagi. gue ngantuk banget. gue mengubah posisi tidur gue menghadap ke kiri... dan gue menyadari ada sesuatu di sebelah kiri gue.

sesuatu.... seseorang?

ADA ORANG DI SEBELAH TEMPAT TIDUR GUE. jelas aja gue kaget. dan setelah gue menganalisis wajahnya, orang itu adalah brendon urie. wajah yang nggak asing bagi gue.

intinya, BRENDON URIE ADA DI SEBELAH TEMPAT TIDUR GUE. how come??!

"AAAAAHH!!!!" gue jerit. dia langsung bangun karena kaget. ok, I must admit that he is cute as hell... especially when he just wakes up. tapi kan tetep aja ngagetin.
"aww, sorry to make you scared!" katanya panik. "but I can explain everything to you, I promise."
"how could you be here?!" gue masih kalap.
"hey hey, I said I'm gonna explain it. but please keep quiet. because nobody can see me except you... for several moments, I guess." dia berusaha menenangkan gue.

gue bingung atas ucapannya tadi.

"nobody... except me? what do you mean?" tanya gue dengan bahasa inggris yang pas-pasan, sambil melipat kedua tangan. brendon menghela napasnya. gue mempersilakannya duduk di atas kasur gue. dia duduk.

"well.... secretly, the guys and I had a bad accident during the trip to jakarta from manila. but fortunately, we've arrived here. so many people came and evacuated us, then they sent us into a nearby hospital." ia memberi penjelasan singkat. gue mengangkat alis.

"but my question is: why could you be here? and plus, with no bruises and injury?"
"and that is the only problem that you'll never believe in."
"which is?"
dia terdiam untuk beberapa lama. tatapannya lurus langsung ke mata gue. gimana gue nggak melting?
"...I am--roughly--a ghost. I was comma at the hospital, then suddenly my soul was separated from my body. I had no idea about where to go, because this is the very first time we got here. it's just a random thing." brendon melanjutkan.
gue mengangguk pelan. "and you chose to stay here. at my creepy house." dia mengangguk. "yeah... something like that. and this is not creepy. this is slightly comfortable anyway." sahutnya sambil tersenyum.

gue masih berdiri di depan dia, pake piyama, dengan tampang disbelief yang bego. oke, let me get this all straight. dia dan bandmates-nya, mengalami kecelakaan dalam perjalanan dari manila menuju jakarta. emergency landing. setelah sehari koma, rohnya bisa jalan-jalan dan dia memilih untuk ke sini. heran aja gitu gue. dia kan superstar, harusnya punya insting untuk tinggal sementara di tempat yang bagusan dikit... like, i don't know, hotel mulia?

"oookay." ujar gue pada akhirnya. "first, sorry if I'm questioning a lot [dia merespon dengan menggelengkan kepala dan bilang, "no problem"]. but could you go back to your... ahem, your body?"
"hmm, it depends." katanya kalem. "I didn't remember the name of the hospital. too difficult to be remembered."

lah, hubungannya apa coba?

"actually I can go back, but I don't want to. just for a week, I'll stay here with you."
"ahha, you can't. you and your mates will be performing here next week! 2 days."
"come on, 2 days are too short. six."
"five. deal or no deal?"
brendon keliatan sebel. "okay, five days."
"five days and you'll leave after that." kata gue sambil mengangsurkan tangan.
"deal." ia meraih tangan gue. a little blush covers my face....
* * *
besok siang, smu tanah bangsa.
gue mengambil tempat duduk di deket jendela. cuacanya cerah, maka gue memutuskan untuk membuka gorden.

tiba-tiba gue melihat ada muka nongol dari balik gorden.
"good afternoon." sapanya sok innocent sambil senyum-senyum sumringah.
"GYAAAAA!!" gue teriak histeris sambil melompat menjauhi jendela.

"sheila! kenapa kamu teriak-teriak kayak kesetanan gitu?" tanya bu diva, guru biologi gue, dengan nada gusar.
"eh... itu... muka... jendela..." and now I'm more idiot than the idiotic people themselves. good.
"kalo mau ribut, jangan di pelajaran saya." ujarnya dingin. suasananya hening.
"i-iya bu." jawab gue dengan lemah.
"duduk sana di tempat kamu!" perintahnya. maka gue duduk.

gue berusaha melupakan kejadian tadi dan konsen pada pelajaran. namun gagal karena brendon mengganggu gue.
"is it your classroom, sheila? nice one." entah bagaimana ia sudah duduk di kursi sebelah gue dan mengomentari kelas biologi.
"you made my teacher angry to me, sneaked into my class and then just commented on it like nothing happens? thank you very much." bisik gue sinis. "what if people see you?"
"I told you nobody can see me except you. you are just different, sheila." ia menyeringai.
"shut up! I don't need everything from you. now let me concentrate on this lesson, will you?" gue memohon. nampaknya ia bisa menyanggupi. pelan-pelan sosoknya menghilang.

hidup ataupun mati, sikapnya tetep sama aja.
* * *
"does anyone know that you guys were having an accident?" gue bertanya di saat perjalanan pulang. brendon berjalan beriringan dengan gue.
"nope," ia menggeleng. "I guess we'll keep it as a secret."
"the word we means..."
"panic at the disco's management, us, and you." lanjutnya santai sambil menengok ke arah gue. dan tersenyum.
gue bengong selama beberapa detik. "oh. wow." hanya itu respon gue. "too bad I can't take your picture." kata gue dengan tertawa yang dipaksakan.
"why not?"
"because you are a ghost. remember?"
"oh--right. I forgot that."
hhm. bagaimana gue mengatasi situasi ini? waktunya masih ada 5 hari lagi.
"what about... guide me traveling around jakarta." seperti bisa membaca pikiran gue, tiba-tiba brendon ngomong gitu.
gue menoleh. "hmm. ok." jawab gue sambil tersenyum.
* * *
selasa siang. di depan museum fatahillah.
"damn, the weather is so hot here!" ia mengeluh. udah gue duga.
"welcome to jakarta, then." timpal gue enteng. "summer never ends in jakarta."
"I see." jawabnya sambil mengipas-ngipas tangannya di depan muka. hahaha, tingkah lakunya mengingatkan gue pada cewek-cewek manja yang sering berkeliaran di jakarta.

gue melihat sekeliling, dan menemukan sebuah ojek sepeda dari kejauhan. "hey, let's travel around this city with a bike." gue mengusulkan. murah dan praktis, dalam pikiran gue. dia setuju aja.
gue memanggil tukang ojek sepeda itu, membayarnya dan membawa sepeda itu. brendon di belakang, gue boncengin. soalnya rada aneh aja kalo dia yang nyetir karena 1) dia itu hantu, 2) karena dia hantu, otomatis bakal keliatan aneh bagi orang lain yang ngeliat ada sepeda bisa jalan sendiri. daripada orang-orang manggil tim pemburu hantu, maka diputuskan gue yang nyetir.

udah lama gue nggak jalan-jalan kayak gini. jadi berasa balik ke masa kecil dulu. ketika ayah gue masih hidup, beliau dulu sering banget ngajakin gue ketika gue masih sd dan masih imut-imut keliling-keliling jakarta lama naik vespa bututnya. dulu gue sering ngeledekin vespa ayah. siapa sangka sekarang vespa jadi kendaraan yang paling bergengsi abad ini?

"what are you thinking about, sheila?" brendon nanya dari belakang.
"do I look like thinking about something?" gue balik nanya.
"well... sort of." katanya singkat. gue berbelok ke sebuah pohon besar dan memarkir sepeda di situ. kita berdua duduk di bawah pohon rindang tersebut.

"back to my question, what are you thinking about?"
"hmm." gue berpikir sejenak. "you first."
"it's unfair! I asked you first." brendon protes.
"okay, okay." akhirnya gue mengalah. terkadang dia bisa jadi kayak anak-anak. "I'm thinking about my dad. he always brought me here when I was in elementary school." gue memandang lurus ke depan.
"until now?"
"he died two years ago."
"...oh. I'm sorry."
"that's ok." gue menyahut sambil tersenyum pahit.

awkward silence.

"your turn. what are you thinking about?" gue memecah keheningan.
"well..." dia diam sejenak. "I'm thinking about you."
"hah?"
"yep." ia memandang gue. hening lagi.

"hahaha. of course not! I'm kidding. haha." dia meninju pelan bahu gue. "ha-ha-ha-ha. what a funny joke you have, bren. fortunately I am not laughing." respon gue dengan sarkastis.
"sooorry. oh please don't get angry to mee." nada bicaranya persis anak kecil yang minta permen lolipop. maka gue tertawa.

"ok, I'm serious now." ujarnya sambil terkekeh. "I'm thinking about my friends and family."
cliche thingy.
"what they are doing now, are they still safe, do they care about me at all, something like that." katanya lagi.
"they certainly care about you." gue memotong. "do you believe in miracle, brendon?"
ia balas menatap gue. lalu memandang lurus lagi. "it depends. but I think miracle hasn't come to my life yet." jawabnya skeptis.
"your life itself is a miracle." gue protes. gimana enggak? brendon urie punya segalanya. true friends, good family, successful life. what are they... hal-hal biasa?
"you think so. everybody does. but for me, it's not a real-miracle. I mean, real miracle has a deeper meaning than materials." katanya sok wise.

"and how about you? do you believe in miracle?" dia nanya balik.
* * *
malam harinya, rumah gue.
"such a nice trip we had, eh?" brendon berkomentar.
"sort of..." kata gue dengan lemas. ngantuk, capek banget. tapi ya... menyenangkan. gue mengambil kaus dan celana pendek di lemari, sementara brendon masih berdiri di depan pintu kamar gue.
"soo.. are you gonna move or stand there and watch me change?"
dia malah membetulkan posisinya, jadi lebih tegak.
gue lempar dia pake hoodie. telat, dia udah keburu menghilang.
* * *
tiga hari gue lalui dengan manusia ajaib itu. gue nggak berasa jalan bareng superstar. gue berasa jalan bareng sahabat baik gue yang udah lama nggak ketemu, sehingga keberadaannya terasa sangat spesial.

dan tanpa terasa, itu adalah saat di mana gue harus berpisah dengan dia.
"sheila!" nyokap memanggil gue, ketika gue sedang sibuk-sibuknya online. "yaaaa, kenapa ma?" sahut gue sekenanya.
beliau masuk sambil membawa selembar kertas ulangan. "apa ini, ulangan kamu bisa dapet nilai jelek begini?" tanyanya sambil mengangsurkannya di depan muka gue. mampus, itu kan ulangan fisika yang dapet 57 waktu itu.
gue diem aja. nggak merespon."jawab, la. mama kamu lagi ngomong ini!"
gue masih diem, berusaha untuk nggak bereaksi.

sedetik kemudian, gue nangis.

mama langsung melunak. ia menyuruh gue berdiri dan langsung memeluk gue. "maaf ma, aku memang nggak bisa. aku memang nggak mampu menuhin keinginan mama untuk jadi anak yang baik." kata gue lirih.

di depan pintu, meski nggak melihat, gue bisa merasakan ia ada di sana. memperhatikan gue dengan raut wajah yang sedih.
* * *
the time has come. gue harus berpisah dengan brendon urie.
"have you remembered the name of the hospital? because your time is alomst running out." tanya gue tergesa-gesa.
"you said almost, just take it easy. and I almost get it... something like, pondok indah?" ia berusaha mengingat.
pondok indah? rumah sakit pondok indah?
"I know the place. come on and hurry, I'll take you there." gue memerintah sambil mengambil hoodie. namun ia masih berdiri di pojokan.

"come on, we're gonna be late!"
* * *
rumah sakit pondok indah. tanggal 15 agustus, pukul 9 malam.
gue turun dari taksi, langsung ngacir ke meja informasi.
"mbak, saya boleh tau nomor kamar pasien bernama brendon urie?" gue langsung main tembak aja.
"uhh, tapi--" wajah petugas itu nampak nggak yakin.
"tolong mbak, ini darurat! saya janji saya nggak akan bikin ribut."
dia masih ragu.
"sumpah demi Tuhan, mbak!"
akhirnya ia memberi tau lokasi kamarnya. tempat ia berada.

gue berjalan menyusuri lorong rumah sakit diikuti oleh brendon. kemudian gue menemukan kamarnya.
ia terbaring lemah di situ. dengan perban yang membalut lukanya. he looks so weak. di sekelilingnya ada anggota panic yang lainnya [name them by yourself], dan cowok berbadan agak besar dan botak. itu zach hall.

gue menghela napas. "there you go, you may go now." kata gue.
"..if I go now, I'll lose all of memories with you." katanya.
"whatever. just... go. the sooner the better. we don't have much time." ujar gue dengan segera.

kalo makin lama lo ada di sini, gue akan makin berusaha menahan lo untuk tinggal.
"sheila, I'm--"
"leave me. now." nada gue meninggi.

gue memejamkan mata untuk beberapa saat.

sekitar 10 detik kemudian, tidak ada tanda-tanda keberadaan brendon. dan digantikan oleh suara gaduh di dalam kamar pasien.

"brendon, jesus! finally you're conscious." nampaknya itu suara jon.
"I thought you were dead, man!" itu ryan.

gue mengintip melalui celah pintu yang sedikit terbuka. namun seseorang menghalangi gue. itu dia, zach hall. manusia rese tapi baik hati.
"what is your business, miss?" tanyanya. gue nggak bisa ngomong apa-apa.
"uhh. I just want to.... see...."
"they can't be disturbed now. maybe later." gue masih mengintip ke arah brendon. dan berhasil, dia bisa melihat gue. tentu aja gue berharap dia mengingat gue.
"who is that girl, zach? your relative?" tanyanya.

dia benar-benar lupa akan semuanya.

"well I'm about to leave soon, don't worry about that. I won't disturb them or you." gue berkata dengan suara parau. kemudian gue pergi, mencari taksi dan pulang.

di taksi, gue menyalakan iPod. lagu Daphne Loves Derby itu lagi.

Lately I've been hoping you can stay with me
And I could hold you close til the end of time
Maybe someday we will grab some change and run away
but for now I'll learn to say goodbye

seiring dengan taksi yang perlahan menjauhi rumah sakit pondok indah... gue menangis.
* * *
17 agustus. konser panic at the disco yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. gue memberi [baca: melempar] kacamata ke panggung, syukur diambil dan dipake sama dia. dia juga ngelempar bunga mawar. gue yang dapet, dan brendon cuma nyengir. tapi apakah dia mengingat gue?

18 agustus. ini adalah hari terakhir mereka di jakarta. gue mengejar mereka ke hotel, nggak peduli deh duit tinggal dikit. gue pergi ke hotel mulia sama valina.

kata cleaning service-nya, mereka udah jalan ke airport! langsung aja gue dan valina ngebut ke cengkareng saat itu juga.
* * *
terminal 2 bandara soekarno-hatta. pukul 6 sore.
"duhh ada di mana ya...." gue mencari-cari.
"eh eh, itu panic!" valina memanggil gue. iya, bener! 4 orang beserta beberapa krunya ada di situ, di terminal keberangkatan. langsung aja kita kejar.

wow, nampaknya cuma kita berdua--fans panic at the disco--yang ada di airport ini. mereka berempat memandangi kita. dan zach, lagi-lagi ia menghalangi.
"that's ok zach. they won't do anything wrong." ryan membela kita. oh, terima kasih banyak, kawan.
"soo what do you want to do?" tanya jon.
"just take some pictures and your autographs, then we'll leave." ujar valina. mereka oke-oke aja. gue melirik ke arah brendon, dia masih diam.
selesai sesi foto, gue memotret mereka dari belakang saat sedang bersiap menuju ruang tunggu. agak-agak sedih juga sih, mengingat mereka bakal pergi secepat itu. apalagi sebelumnya gue udah jalan bareng sama brendon selama 5 hari. jadi... wajar aja kan kalo mata gue merah karena nahan nangis?

seseorang mengangsurkan saputangannya ke depan muka gue. brendon urie.
"here, take it." katanya singkat.
gue tersenyum sedikit. "....thanks."

beberapa detik setelah gue mengambil saputangan itu, muncul pengumuman bahwa pesawat menuju sydney akan segera boarding.

"c'mon bren, we're leaving." salah satu kru memanggil. dia tersenyum tipis dan pergi. saat gue mau ngebalikin saputangannya, dia cuma bilang "you may keep it if you want."

as we [gue dan valina] watch them leave, tiba-tiba muncul keberanian gue untuk teriak, "have a nice trip to australia!" namun sepertinya mereka nggak mendengar. maka gue memutuskan untuk mengajak valina segera pulang.

"thank you very much, sheila!" gue mendengar teriakan seseorang yang familiar. bener aja. ketika gue menoleh ke belakang, brendon melambaikan tangan ke arah gue sambil tersenyum lebar.

"how do you now my name?" teriak gue. kirain dia udah lupa.

ia mengangkat bahu. "I don't know. I just... know." jawabnya sambil berjalan mundur, menyusul teman-temannya ke ruang tunggu. gue tersenyum lebar melihat kelakuannya.
* * *
di dalam mobil valina, gue menatap saputangan itu. "iih beruntung banget lo bisa dapet saputangannya brendon urie." kata valina sirik. gue cuma tertawa.
"ngomong-ngomong... kok dia bisa tau nama lo ya?" dia nanya lagi.
"ooh itu. ada deh. hehehe." gue tersenyum penuh arti.

gue melihat pesawat qantas yang siap lepas landas. bibir gue menyunggingkan senyum samar.
-tamat-

Wednesday, August 6, 2008

this is my guilty pleasure

setiap orang pasti punya keinginan. ada yang ingin jadi orang sukses, ada yang ingin pergi ke suatu tempat, ada yang ingin sesuatu yang diincarnya, ada yang pengen keluarganya bahagia, dan nggak sedikit juga yang pengen punya pacar!

gue juga punya keinginan.

gue amat-sangat-menginginkan-sekali CD limited edition dari band yang gue puja-puja, the audibles. rintangannya cuma satu: harganya yang nggak masuk akal bagi pelajar sma seperti gue ini... $50.

akhirnya gue cuma bisa pasrah, terus-menerus memandangi CD itu dari webstore yang gue kunjungi hampir tiap hari. sebenernya gue bisa-bisa aja beli online, kaloo aja gue tinggal di amerika. ini? gue tinggal di negara terpencil austria. ah, inilah susahnya tinggal di negara yang jauh dari peradaban. mau ngapa-ngapain serba ribet. nyokap gue pasti nggak bakal beliin gue CD itu karena pasti prosesnya bakal makan waktu dan uang yang banyak. ah nasib...

$50? how could I afford that?
* * *
July 30. 3 in the afternoon.
"cuma ada satu cara, ash." kata darina, sahabat gue, di suatu siang yang cerah.
"apaan?"
"lo ganti nama, ganti warna rambut, trus ganti kewarganegaraan, pindah deh ke amerika."
"makasih banyak ya rin, saran lo nggak membantu sama sekali." balas gue sarkastis. "yaah asher... gitu aja ngambek. bercanda kali gue." darina merajuk sambil tertawa kecil.
"biar bagaimanapun caranya, gue harus dapetin CD itu!" kata gue berapi-api. darina hanya mengangguk mengerti. "terserah lo deh. sampe segitunya ya demi satu CD. ckckck." ia menggelengkan kepalanya dengan heran. "ini namanya demi idola, rin. apapun gue lakukan." gue menegaskan. "iya daah..." nampaknya darina menyerah dalam debat melawan gue.

gue duduk menyender di dekat jendela kelas [ya, jadi ceritanya gue lagi ada di sekolah]. gue melirik ke arah jendela, melihat pemandangan di baliknya.
"oh iya ash! lo kan pernah bilang kalo kakak lo tinggal di new york." kata darina tiba-tiba. oh iya, gue baru inget. regina, kakak kesayangan gue, kan kerja di sana.
"terus?" sahut gue malas.
"lo minta dia aja yang beliin! nanti tinggal dianter ke sini."
wajah gue langsung berubah ceria seketika.
"...tumben lo pinter, hahaha. makasih ya!"
* * *
"kak, gimana? boleh nggak gue nitip CD the audibles?" gue merengek bertanya dari telepon.
"waduuh... sebenernya sih gue mau aja beliin kamu. tapi kayaknya gue sibuk banget nih, ash. sori banget." sahut regina dari ujung sana. "oh... gitu ya." kata gue pasrah.
"tapi nanti pasti gue bakal berusaha buat beliin CDnya. oke?" regina berjanji. gue langsung tersenyum.
"oke! makasih banyak yaa kak!"

klik. telepon gue tutup.

"kamu mau minta beliin kakak kamu CD? ada-ada aja kamu." kata mama. "yaah mama... aku kan pengen banget punya CD itu. beberapa temenku aja udah punya!" gue beralasan.
"tapi itu kan pasti mahal. berapa harganya?"
"50 dolar sih, tapi--"
"NAH! 50 dolar. belom ongkos kirimnya, belom biaya tambahannya. kan kasian regina. belom tentu uangnya cukup." mama berkomentar panjang lebar. "tapi aku kan harus dapet! yang namanya fans sejati pasti nggak bakal mau kelewatan apapun dari idolanya." gue berargumentasi layaknya harvey dent saat dia lagi berpidato, seolah-olah gue ngomong "The night is darkest just before the dawn. And I promise you, the dawn is coming."

ok, back to the reality.

tapi pada akhirnya mama ngebolehin gue, toh bukan beliau ini yang beliin. hehe.
* * *
beberapa minggu kemudian, masih belom ada kabar dari regina. lama-lama gue mulai putus asa. tiba-tiba, jessica nyamperin gue dengan senyum jumawa dan mengatakan sesuatu yang sangat menyakitkan hati gue...
"ash, gue udah punya CD the audibles lho."

DANG.

"u...udah punya?" gue tergagap.
"udah dikirimin tante gue dari kanada, palingan besok udah nyampe." jawabnya dengan bangga.

hati gue hancur. luluh lantak. remuk redam [nggak gitu juga sih sebenernya].
* * *
"bahkan jessica yang bukan maniak the audibles punya CD limited edition-nya! gimana gue nggak makin envy?" gue marah-marah di depan darina. "sabar rin, sabar. mungkin regina emang belom sempet beliin ke lo, bukannya nggak bisa." darina menenangkan.
"nggak sempet apa nggak mau?"
"nggak sempet." tandasnya.
"hh..." gue menghembuskan napas panjang. apakah ini memang takdir gue untuk ngelewatin collectible thing yang paling berharga itu?

"eh... ash." panggil darina tiba-tiba.
"apa?"
"lo jangan marah ya... sebenernya, sepupu gue kemaren beliin gue CD the audibles juga."
"..."
"ja-jangan marah ash. itu aja gue baru dikasih tau tadi pagi." kata darina lagi.

"kenapa lo gak ngasih tau gue dari tadiii?!" kepala gue hampir meledak.
"yaa mana gue tau! kan tadi udah gue bilang, gue baru dikasih tau tadi pagi." ia membela diri. ini namanya ironi. jessica dan darina, bisa dibilang mereka nggak suka-suka amat sama the audibles. gue cinta the audibles. gue nggak punya CD limited edition-nya, dan mereka punya. betapa tidak adil dunia ini.

"hmm, gini aja deh. gimana kalo begitu tuh CD nyampe, gue kasih buat lo aja. setuju?" ia memberikan penawaran yang [sangat] menarik. extremely brilliant!

"tapi bener gak papa?" gue masih nggak yakin.
"ah, gue juga nggak butuh-butuh amat kok."
"OKE!" gue langsung kegirangan. nggak nyangka, darina bisa sebaik itu.
"makasih banyak ya riin... lo baik banget deh!" kata gue. "iya iya. tuh kan, kalo ada maunya aja langsung muji deh lo." sahut darina tenang.
* * *
2 hari kemudian...
gue ke rumah darina dengan ekspektasi yang berlebihan. gue ke sana karena dia ngabarin kalo CD-nya udah nyampe ke rumahnya, dan dia janji mau ngasih hari ini juga.

begitu gue mendapatkan benda itu, gue merasa sangat bahagia. inilah yang gue cari-cari selama ini.
"makasih, makasih banyak rin! gue kira gue nggak bakal dapet."
"iyaah. seneng kan lo sekarang?"
"iya, seneng banget." jawab gue sambil tersenyum dan nggak henti-hentinya gue menatap sampul CD itu.

"tapi rin..."
"apa lagi?"
"emangnya sepupu lo nggak keberatan kalo CD yang dia kasih buat lo ini, malah dikasih ke gue?"
"eh, iya juga ya."
"...tuh kan."
"ah, gampanglah itu. semua bisa diatur kok." darina menenangkan gue.

satu jam kemudian, gue pulang ke rumah.
* * *
keesokan harinya.
"asher, asher!" teriak darina dari lorong sekolah.
"apa?"
kemudian dia menghampiri gue, dengan berlari. "sepupu gue minta CD-nya dibalikiin tuh!" lanjutnya sambil mengatur napas.

baru aja sehari gue ngedapetin apa yang gue inginkan sejak lama, dan udah diminta balik lagi?

"tapi rin... kata lo, semuanya bisa diatur." gu mencoba untuk tenang.
"itu dia masalahnya. ternyata sepupu gue nggak mau kalo CD-nya dikasih ke orang lain. intinya yaa cuma buat gue."

rasanya gue mau nangis menjerit-jerit dan berlari dari situ sekarang juga. hati gue bener-bener hancur. musnah sudah harapan gue untuk mendapatkan apa yang bener-bener gue inginkan sejak lama. mungkin ini bukan yang dikehendaki Tuhan.

"ash, gue bener-bener minta maaf. nanti kalo bisa gue bilangin--"
"nggak usah, rin." gue menggeleng santai. "CD-nya besok gue balikin deh, ke rumah lo. nggak papa kok."
kemudian gue berbalik, dan pergi meninggalkan darina.

melangkah dengan gontai menuju ruang kelas.
* * *
seminggu telah berlalu semenjak peristiwa itu. sedikit demi sedikit, gue mulai melupakan dendam kesumat gue terhadap sepupunya darina, dan mulai melupakan obsesi gue terhadap CD limited edition the audibles.

sampai suatu sore tiba dan mengejutkan gue.
knock knock knock. ada yang ngetok pintu rumah gue.
saat gue buka, yang muncul adalah seorang cowok berseragam fed ex dan ia membawa sebuah kotak berukuran sedang. di atas box itu, terdapat sebuah label bertuliskan the audibles limited cd.
"permisi mbak. saya mau ngasih kiriman paket buat margareth asher... dari regina strachet."
gue tersenyum.
"oh, iya. saya margareth asher."
-tamat-

Tuesday, June 24, 2008

she loves edward, but not me

"CUT!"
"makasih buat hari ini, lo mainnya bagus banget." puji sang sutradara. "hehe, makasih." danny cengar-cengir. daniel armstrong adalah seorang aktor muda, umurnya masih 17 tahun. saat ini dia lagi shooting land of victory, film yang diadaptasi dari novel fiksi terkenal. ia memerankan tokoh utama bernama edward finchley.

"hey danny!" seseorang memanggilnya dari kejauhan. "hey lucy," sahut danny. lucy adalah sahabat danny sejak kecil, umurnya 17 tahun juga. dialah yang mendukung impian danny menjadi aktor sampai sekarang. "lo tadi mainin karakter edward keren banget... bener-bener pas sama karakter di bukunya!" puji lucy.

sekali lagi, danny tersenyum. "eh, lo laper gak? kita makan yuk di Mc Donald's." ajaknya. lucy setuju, dia emang udah kelaperan banget gara-gara nungguin danny.
* * *
"lo udah baca land of victory belom?" tanya lucy setelah minum milkshake dari McD.
"sejujurnya... belom sama sekali, cuma sekilas doang sih." jawab danny enteng, lalu memakan fillet-o-fish dalam satu gigitan besar.
"wah, kalo gitu kok lo bisa mirip gitu sih sama edward? ya ampun... bener-bener nggak nyangka. selama ini tuh gue ngebayangin dia bakal kayak apa. eh, ternyata lebih bagus daripada yang gue kira." lucy merepet panjang lebar.
"oh... gitu ya. hahaha." danny salah tingkah. yang ada di pikirannya adalah, lucy akan melanjutkan dengan pujian bahwa danny emang pantes banget meranin karakter itu.
namun pikirannya diruntuhkan dengan perkataan lucy...
"udah selesai makannya? kalo udah, balik sekarang yuk!"

danny bengong. "uhh, ya. balik yuk."
* * *
esok harinya, merupakan minggu terakhir shooting film land of victory. dan 4 minggu lagi adalah premiere film tersebut. "eh, luce," panggil danny.
"ya?"
"nih... buat lo. undangan premiere film." lanjutnya sambil mengangsurkan selembar amplop. bisa dibayangin reaksi lucy saat itu, dia langsung kegirangan setengah mati.
"huaaaaaaahh, makasih banget ya dan! ya ampun, gue hampir gak bisa napas nih... gila, makasih makasih!!" dia menjerit histeris. danny tersenyum lebar. "ngomong-ngomong, kok lo ngasih ini ke gue?" tanya lucy.
"hhmm, soalnya nanti ada yang mau gue omongin..." namun kata-kata danny terputus gara-gara lucy. "gue jadi penasaran kalo edward di film jadi kayak apa ya? pasti jadi keren banget deh. di buku aja udah keren banget.."
"siapa dulu dong yang meranin." danny membanggakan dirinya sendiri.
"iya iya, lo yang meranin. makasih ya, lo udah membuat karakter itu hidup!" kemudian lucy berlalu.
"dan, sekarang giliran lo nih!" panggil asisten sutradara. "oh, iya."

saat dia jalan, ia merasa agak kecewa.
sebenernya bukan itu jawaban yang gue harapkan...
* * *
beberapa hari telah berlalu.
"danny?" panggil si sutradara, johnny. "hmm?" sahutnya malas.
"lo kok akhir-akhir ini aktingnya jadi menurun gini sih. ada apa?"
ia menggeleng lemas. "nggak, nggak ada apa-apa kok."
"jangan bohong lo."
"john, hmm. apa sebaiknya gue berenti meranin edward ya?" akhirnya danny angkat bicara.
"LHO? kenapa?" johnny bingung. padahal, dia tau persis kalo danny seneng banget bisa kebagian peran itu.
 "yah, tiba-tiba males aja. gue jadi nggak semangat gini." katanya. "DAN, jangan maen-maen lo. bentar lagi udah premiere, masaaa lo mau mundur? kita udah nggak punya waktu lagi buat nyari pengganti lo!" johnny ngomel.
"iya dan... sayang banget lho." diana sang asisten sutradara ikutan nimbrung.
"sebenernya ada apa sih? mendingan lo jujur aja deh sama kita. daripada semuanya bakal jadi ancur."
danny memandang kedua partnernya itu. kemudian, ia memutuskan untuk berbicara yang sebenarnya.
* * *
"oh, jadi gitu ceritanya?"
"cuma karena itu doang dan? ckckck. lo tuh cowok
bukan sih?" nada bicara johnny agak menyindir.
"hus, jangan gitu kek ngomongnya. ya udah, lo tetep main di film ini. dan yang harus lo lakukan sekarang adalah bilang sekarang juga ke orangnya, sebelum semuanya terlambat. oke?"
"hmm... gimana ya.."
"DANNY!" hardik diana dan johnny.
"ya udah, ya udah. besok malem gue sampein." danny mengalah.
"oke deh. tos dulu dong." diana malah ngaco.


danny mengingat-ingat pembicaraannya kemarin sambil berjalan menuju ke rumah lucy. oke, dateng ke rumahnya, sampein tentang semuanya, selesai. tenang aja dan... semuanya akan baik-baik aja, pikirnya pada diri sendiri. kemudian ia sampai di depan rumah lucy.

ia bersiap mengetuk pintu, tapi gerakannya terhenti. "hhm. mau ngomong apa gue tadi? luce, gue suka sama lo. mau gak jadi pacar gue? ah basi. lucianne catharina, kamu mau jadi pasangan hidup aku? APA? kayak bukan gue aja. ya udahlah, urusan ngomong nanti aja."
baru aja dia mau ngetok, gerakannya terhenti lagi. kali ini dia mau pergi aja. tapi setelah itu ia memantapkan langkahnya untuk kembali ke depan rumah lucy dan mengetuk pintu rumah.

knock knock knock.
"ya... hei dan! ayo sini, masuk." sambut lucy. "nggak usah," tolaknya. "di sini aja--eh! gimana kalo kita jalan aja ke taman?"
lucy bengong. "hmm. oke."
* * *
"jadii, apa yang mau lo omongin dan?" tanya lucy sambil mereka berjalan tanpa arah.
danny diem. "ngg..."
"apaan?" lama-lama lucy jadi nggak sabaran.
"gue mau bilang kalo.... lo jadi kan dateng ke premiere film gue nanti?" danny ganti topik. anjrit! salah ngomong gue.
dan bener aja, hal itu langsung disambut dengan [sangat] antusias oleh lucy. "oh, udah pasti dong! kan gue penasaran banget sama edward finchley versi filmnya... bakal kayak apa ya dan? aduh, jadi nggak sabar nih. lo tuh mestinya baca bukunya... keren banget bla bla bla..."
"dan lo tau? ada seseorang yang gue suka, tapi nggak bisa gue miliki karena dia nggak nyata."
"...siapa?" danny malah nyari perkara.
"edward finchley."
dua kata terakhir yang disebutkan lucy membuat danny sesak. jadi dia bener-bener mencintai edward, bukan gue. ia tersenyum pasrah.
"luce, edward finchley itu nggak ada."
"iya sih, tapi kan..."
"kalo gitu kenapa lo ngomongin dia seolah-olah dia itu cowok lo? lo tuh punya perasaan nggak sih??" habis sudah kesabarannya.
"danny? gue gak ngerti deh." lucy kebingungan.
"kenapa lo nggak nyadar juga? selama ini gue--"
"KYAAA, ITU DANIEL ARMSTRONG!" teriak beberapa cewek dari kejauhan, menghentikan kata-kata danny. "uh oh." kata danny pelan. lalu ia langsung cepat-cepat lari dari situ selagi ia bisa.

lucy masih terdiam di tempat itu.
* * *
"gimana dan?" tanya diana.
"gimana apaan?"
"ya itu, aksi penembakan lo kemaren. sukses gak?"
"hmmph. melenceng jauh dari target, yang ada gue dikejar-kejar sama fangirls." sahutnya bete. diana ngakak. "hahahaa... lagian siapa suruh punya muka ganteng?" ledeknya.
"eh, itu bukan mau gue ya. salahin tuh orangtua gue!" balas danny. tak lama kemudian, salah satu staff mendatangi danny dan bilang, "dan, ada yang nyariin lo tuh. cewek."
"wah, jangan-jangan itu..." diana nakut-nakutin. namun hal itu nggak diperhatikan oleh danny, karena ia buru-buru menuju tempat cewek itu.

dia ada di sana.

lucy.

"lucy?" panggil danny.
"hey dan." katanya sambil tersenyum. "ada yang mau gue omongin." lanjutnya.

mereka duduk di sebuah tempat di deket lokasi shooting. "mau ngomong apa?" nada bicara danny berubah dingin. lucy menghela napas. "dan, gue ngerti lo marah gara-gara gue ngomongin edward tiap waktu. dan kayaknya gue emang terobsesi deh sama dia. tolong maklumin gue ya?"
"ya udah. kalo gitu, mendingan gue nggak usah jadi edward sekalian." sahut danny pelan dan beranjak pergi. namun langkahnya tertahan oleh lucy.
"dan, lo jangan kayak anak kecil gitu dong! sebenernya mau lo apa sih?" lucy ikut marah.
"apa mau gue? apa mau gue? lo pikirin aja sendiri." katanya sambil berbalik pergi.
"DANNY!"
"gue suka sama lo. gue mau lo jadi cewek gue. itu yang gue mau." kemudian ia benar-benar berlalu pergi meninggalkan lucy.
* * *
danny's point of view.
beberapa minggu kemudian, adalah premiere film land of victory. gue, sebagai pemain di film itu, tetep dateng. acaranya sejauh ini berjalan cukup lancar. film itu mendapat sambutan yang cukup baik dari beberapa kalangan. johnny sebagai sutradara jelas bangga akan hal itu. dasar manusia narsis.

lalu bagaimana dengan lucy? apakah dia datang? itulah yang menjadi penantian gue.

ya, gadis itu memang datang. dia ada di sebelah sana, duduk di atas gedung [ya ampun, kurang kerjaan amat di atas gedung].

normal point of view.
"lucy." panggil danny. lucy menoleh. danny langsung ikut duduk di sebelah lucy.
"hhm... nice job. lo bener-bener pantes meranin karakter itu." lucy nampak hati-hati dalam memilih kata-kata, takut salah lagi.
"thanks." danny tersenyum.

awkward silent.

"sori ya dan," lucy membuka suara. "gue udah bikin lo marah, dan parahnya gue sama sekali nggak tau akan hal itu."
"..."
"apa yang harus gue lakuin supaya lo maafin gue?" lucy lanjut terus.
"hmm..." danny berpikir sejenak. tiba-tiba ia langsung mencium lucy. ciuman yang halus. ciuman yang nggak akan pernah dilupakan mereka berdua.

di sini, di atas gedung new york state theater, akhirnya danny memberanikan diri untuk ngungkapin semua perasaannya yang selama ini terpendam kepada lucy, cewek yang disayanginya.

"luce..."
"ya?"
"lo mau jadi cewek gue?"
"...ya, tentu aja." ada raut muka gembira sekaligus perasaan lega tersirat di wajahnya. mereka berdua berpelukan dengan gembira. danny apalagi, karena petualangannya dalam mengejar cinta akhirnya tercapai juga.

namun petualangan yang sebenarnya baru saja dimulai...
-tamat-

Thursday, June 12, 2008

in a small room, there's a big happiness

apa yang membuat orang bahagia?

pasti ada banyak jawaban dari pertanyaan di atas. itu semua tergantung yang menjawabnya. mungkin ada yang bilang yang membuatnya bahagia adalah bisa naik kelas, dapet pacar, disenengin temen, dapet hadiah, atau yang paling absurd sekalipun, kayak.... bisa main layangan untuk pertama kalinya? hehehe.
beneran lho, gue punya temen namanya chloe. dari kecil dia nggak pernah bisa main layangan, hingga akhirnya dia bisa setelah diajarin. dan dia merasa bahagiaaa banget. dan lo tau berapa umurnya sekarang? 17 tahun. seumuran sama gue. kesannya kayak masa kecil kurang bahagia gitu.

tapi ada nggak yang bakal menjawab, bahwa dia bakal bahagia kalo dia bisa membahagiakan orang lain? mungkin ada, tapi pasti bakalan sedikit yang menjawab itu.

lalu bagaimana dengan gue? apa yang membuat gue bahagia?

semuanya berawal dari sini.

* * *

1460 Broadway #5, New York City. 3:00 pm.
"selamat datang di starbucks coffee. mau pesan apa?" tanya seorang penjaga counter ketika gue memasuki kafe. aroma kopi langsung menerpa muka gue.
"hmm," gue berpikir sejenak sambil melihat daftar menu. gue memutuskan untuk memesan espresso. setelah pesenan gue dateng dan gue bayar, gue berjalan mencari tempat yang nyaman.

nama gue sime, dan gue cewek. iya, cewek. kalo diliat dari nama panjangnya yang simone clarice siapalah itu. ah, whatever. gue lebih nyaman dipanggil sime.

seseorang menghancurkan lamunan gue. waitress yang tadi, yang disinyalir bernama ilora. hmm. nama yang cukup aneh. "silakan, ini blueberry muffin
-nya." katanya. gue bengong.
"lho mbak... saya nggak mesen ini." gue jelas kebingungan.
"bukan, ada yang mesenin ini buat mbak." katanya lagi.
"dari siapa?"
"oh, maaf mbak. saya nggak boleh ngasih tau." kemudian ia berlalu.

cukup misterius. gue memandang ke sekeliling. nampaknya mereka nggak melakukan sesuatu yang mencurigakan. gue mengangkat bahu. ah, ya sudahlah. lumayan juga dapet muffin gratis.
gue baru aja mengangkat muffin tersebut ketika akhirnya gue melihat ada secarik kertas di atas piring--yang membuat gue terpaksa menunda untuk makan kue gratisan.

to simone clarice peterson

he? dia tau nama lengkap gue dari mana? karena penasaran, gue buka lipatan kertas itu.

hey sime
mungkin kamu memang nggak tau siapa saya, tapi saya tau kamu.
saya ada di sekitar kamu hampir setiap hari, hanya aja kamu nggak menyadari hal itu.
I hope we can be good friends...

enjoy the muffin! :D


gue mengerutkan alis. ini siapa sih?

* * *

besok siang, pulang dari kuliah, gue mampir ke kafe yang sama bareng temen gue. namanya chloe, yang tadi gue ceritain itu. kami memesan cappucino, mencari tempat dan segera duduk.
"mana, orang yang lo ceritain kemaren?" tanyanya.
"mana gue tau?" sahut gue sekenanya sambil menyeruput cappucino sedikit-sedikit. "kalopun gue tau... kemaren bakal gue kasih tau namanya." chloe cuma mengangguk.

"tungguin aja, palingan bentar lagi dia ngirim muffin lagi." kata gue lagi.

20 menit berlalu... dan tidak ada yang terjadi.

"mana orangnya?" chloe udah nggak sabaran.
"...lho, mana ya?" gue juga bingung.
"lagi nggak punya duit, kali. jadinya nggak bisa beliin lo muffin. udah ya, gue mau balik. dadahhh..."
"yaaaah, jangan balik dulu..." telat. chloe udah keburu menghilang dari balik pintu kaca starbucks.
* * *
beberapa hari kemudian, gue iseng-iseng mampir ke Cupcake Café di 18th street. di situ gue cuma memesan cappuccino seharga 3.50 dollar [ya ampun, harganya lumayan juga ya?]. gue nyari tempat, duduk, dan menikmati kopi.
dan bener aja, beberapa saat kemudian waiternya dateng sambil bawa sepiring carrot cupcake dengan secarik kertas di situ.
"maaf mbak, saya dilarang ngasih tau identitas orangnya." lagi-lagi jawaban yang sama. hahh, ya sudahlah. gue membuka lipatan kertas dengan satu tangan, sementara tangan yang satunya memegang cupcake.

dear sime,
sebenernya apa sih yang menjadi kebahagiaan kamu?
apa yang membuat kamu bahagia?


apa yang membuat gue bahagia? nggak ada yang pernah menanyakan hal itu sebelumnya ke gue. dan itu membuat gue berpikir juga.

apa yang membuat gue bahagia? nggak tau... dan nggak peduli.

* * *

hari-hari berikutnya, orang misterius ini makin gencar ngasih gue snack di kafe manapun gue berada saat itu. dan surat yang dia kasih juga beraneka ragam. meski begitu, intinya sama: apa-arti-kebahagiaan-buat-gue. blah blah blah. gak penting.

suatu hari, dia meminta gue untuk datang ke central park hari minggu siang. menghirup udara segar itu baik buat kamu... begitu katanya. OKE, kali ini gue ikutin sarannya.

* * *

central park. 1:15 pm.
gue duduk di salah satu kursi taman sambil menunggu orang itu. kursi ini menghadap ke kolam taman. gue memerhatikan orang sekitar... ada ayah dan anak, ada sekeluarga ayah, dua anak dan ibu, seseorang teman-temannya, anak kecil yang berlarian. mereka semua nampak bahagia. gue jadi merasa aneh sendiri. apa dia ngeledekin gue? mentang-mentang gue belom bisa menemukan kebahagiaan gue, jadinya dia sengaja menyuruh gue ke tempat ini.

"huh... jadi nyesel dateng." gue mengeluh.
"eits, jangan nyesel dulu," terdengar suara seseorang dari belakang gue. gue menengok ke belakang dan melihat... ryan, temen sekolah gue.
"gue boleh gabung?" tanyanya. gue mengangguk. dia langsung duduk di sebelah gue.
"lo ngapain di sini?" gue nanya. "yaah... pengen jalan aja. menghirup udara segar yang nggak bisa didapet di kota." sahutnya ringan. gue tertegun atas perkataannya tadi.
"jangan-jangan... lo orang misterius itu??" tebak gue.
ia hanya tersenyum. "menurut lo?" dia nanya balik.
"heh, apa yang lo lakuin tuh nggak lucu tau nggak! bukannya bikin seneng, malah bikin orang sebel." gue mencerca abis-abisan. "tapi lo seneng kaan dapet makanan gratisan? hayo ngaku!" tuduhnya. mau nggak mau gue setuju dengan perkataannya.

"hhmm.... sebenernya, apa sih yang membuat lo bahagia?" dia nyeletuk.
gue menggeleng. "gue sendiri nggak tau."
"tapi setelah ngeliat pemandangan ini, apa yang lo rasain?" ryan nanya lagi.
gue diem.
"ya?" kejarnya.
"...ya, bahagia. rasanya gue seneng bisa ada di sini, tempat yang sedamai ini." ujar gue sambil tersenyum.
"dan lo tau apa yang membuat gue bahagia?"
"apa?" gue mau tau.
"lo."
"gue?"
"ya, lo.... sebenernya ini akal-akalan gue aja." katanya enteng.
"maksudnya?"
"ngeliat lo kebingungan, merupakan sesuatu yang membuat gue bahagia." lanjutnya sambil tertawa.
"OOH JADI INI SEMUA AKAL-AKALAN LO AJA YA?" gue sewot. namun, kemudian kami tertawa bareng, ngetawain kebodohan masing-masing.

yah... setidaknya gue udah menemukan sesuatu yang membuat gue bahagia.

ryan?

-tamat-

ahh, gue tau... emang nih cerita gak jelas. udah panjang banget, gak ada maknanya pula T_T